Minggu, 02 Desember 2018

Tip Mengintip Cendrawasih di Hutan Papua: Jangan Mandi

Tip Mengintip Cendrawasih di Hutan Papua: Jangan Mandi

Cendrawasih jantan di Hutan Ficirie, Distrik Miyah, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Foto: Tim Ekspedisi Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata dan Pemerintah Darah Kabupaten Tambrauw/Sendy Aditya
Cendrawasih jantan di Hutan Ficirie, Distrik Miyah, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Foto: Tim Ekspedisi Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata dan Pemerintah Darah Kabupaten Tambrauw/Sendy Aditya
TEMPO.CO, Jakarta - Kabupaten Tambrauw di Papua Barat diduga menjadi spot pengamatan burung cendrawasih terbaik. Sebab, secara geografis, wilayah ini berada di antara dataran tinggi dan dataran rendah sehingga menaungi semua spesies cendrawasih yang hidup di dua areal itu.
Salah satu spot pengamatan berada di Distrik Miyah. Waktu tempuhnya lebih-kurang 4-5 jam dari Ibu Kota Sementara Tambrauw, Sausapor. Untuk dapat mengamati burung, wisatawan harus memenuhi beberapa syarat.
Hal ini disampaikan oleh penduduk lokal, Vince dan Sleke, saat mengantar Tempo bersama tim ekspedisi dari Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Wisata dan Pemerintah Kabupaten Tambrauw pada 18 Mei lalu. "Karena cenderawasih itu burung sensitif, jadi kita harus tahu beberapa hal," ujarnya. Berikut ini syarat yang harus dipenuhi oleh pelancong.
1. Tidak pakai wewangian atau lebih baik tidak mandi
Cendrawasih adalah burung yang sangat sensitif terhadap penciuman. Maka, ia bisa menghirup aroma wewangian dari manusia. Bila wisatawan datang menggunakan parfum atau bau sabun, burung yang menjadi ikon Papua itu akan enggan menampakkan diri. Maka itu, lebih baik tidak mandi lebih dulu saat akan mengamati cendrawasih.
2. Jaga suara
Selain tidak disarankan mandi, saat mengamati cendrawasih, wisatawan harus menjaga suara. Sebab, burung berjuluk bird of paradise ini sangat peka pendengarannya. Dalam radius ratusan meter, ia dapat mendengar suara manusia.
3. Sembunyi di balik pohon
Burung cendrawasih sangat peka terhadap penglihatan. Ia bisa melihat gerak-gerik manusia dari ketinggian titiknya terbang atau bertengger. Maka itu, agar tak terdeteksi oleh mata cendrawasih, wisatawan sebaiknya bersembunyi di balik pepohonan.
4. Menggunakan baju berwarna gelap
Gunakan baju warna gelap agar ak terdeteksi cnedrawasih. Kaus cokelat, hijau tua, dan hitam akan membuat pengamat bisa menyaru dengan alam sekitar.
5. Persiapan fisik dan kesabaran
Menyaksikan cendrawasih memang butuh perjuangan. Tak dapat langsung instan menyaksikannya seperti di kebun binatang. Di alam liar, wisatawan perlu masuk dan jalan kaki ke hutan yang masih rapat.

Cendrawasih si Burung Surga

Cendrawasih si Burung Surga

Burung Cenderawasih yang merupakan burung khas Papua, terutama yang jantan, memiliki bulu-bulu yang indah layaknya bidadari yang turun dari surga (kayangan). Keindahan bulu Cenderawasih tiada duanya. Makanya orang menyebutnya sebagai Burung Surga (Bird of Paradise).  
PENYEBARAN DAN TEMPAT TINGGAL (HABITAT)  
Burung Cenderawasih merupakan sekumpulan spesies burung yang dikelompokkan dalam famili Paradisaeidae. Burung yang hanya terdapat di Indonesia bagian timur, Papua Nugini, dan Australia timur ini terdiri atas 14 genus dan dan sekitar 43 spesies. 30-an spesies diantaranya bisa ditemukan di Indonesia. Oleh masyarakat Papua, burung cenderawasih dipercaya sebagai titisan bidadari dari surga. Dulunya burung ini dianggap sebagai burung cantik tetapi tidak berkaki. Mereka tidak akan turung ke tanah tetapi hanya berada di udara saja lantaran bulu-bulunya yang indah. Karena itu kemudian burung Cenderawasih terkenal sebagai Bird of Paradise atau Burung Surga. Beberapa jenis yang terkenal adalah dari genus paradisaea yang penamaannya berasal dari kata paradise. 
DESKRIPSI DAN CIRI CENDERAWASIH
                            
Burung cenderawasih mempunyai ciri khas bulunya yang indah yang dimiliki oleh burung jantan. Umumnya bulunya erwarna cerah dengan kombinasi beberapa warna seperti hitam, cokelat, kemerahan, oranye, kuning, putih, biru, hijau, dan ungu. Ukuran burung cenderawasih beraneka ragam. Mulai dari yang berukuran 15 cm dengan berat 50 gram seperti pada jenis cenderawasih raja (Cicinnurus regius), hingga yang berukuran sebesar 110 cm yaitu cenderawasih paruh sabit hitam (Epimachus albertisi) atau yang beratnya mencapai 430 gram seperti pada cenderawasih manukod jambul-bergulung (Manucodia comrii). 
Keindahan bulu cenderawasih jantan digunakan untuk menarik perhatian lawan jenis. Untuk 'merayu' betina agar bersedia diajak kawin, burung jantan akan memamerkan bulunya dengan melakukan tarian indah. Sambil bernyanyi di atas dahan, pejantan bergoyang dengan berbagai gerakan ke berbagai arah. Bahkan terkadang hingga bergantung terbalik bertumpu pada dahan. Namun, setiap spesies cenderawasih tentunya punya tipe tarian tersendiri. 
 Burung cenderawasih mempunyai habitat hutan lebat yang umumnya di daerah dataran rendah. Burung dari surga ini dapat dijumpai di beberapa pulau di Indonesia bagian timur seperti Maluku dan Papua. Selain itu juga dapat ditemukan di Papua Nugini dan Australia Timur.https://www.niuskenelak.blogger.com

Cantiknya Burung Cendrawasih di Bumi Papua





Burung Cenderawasih Raggiana atau yang dikenal dengan Burung Cendrawasih memiliki daerah penyebaran di hutan hujan tropis, hutan dataran rendah, perbukitan dan pegunungan pulau Irian bagian selatan, dari permukaan laut sampai ketinggian 1.500 meter.
Burung Cendrawasih adalah jenis binatang poligami.
Burung jantannya akan memikat pasangan dengan ritual tarian yang memamerkan bulu-bulu indahnya.
Makanan dari Burung Cendrawasih Raggiana terdiri dari buah-buahan dan aneka serangga.
Burung Cendrawasih atau dalam nama ilmiahnya Paradisaea Raggiana adalah sejenis burung pengicau berukuran sedang, dengan panjang sekitar 34 cm (Genus Paradisaea).
Burung jantan dewasa memiliki bulu-bulu hiasan beraneka warna merah, jingga dan warna campuran antara merah-jingga pada bagian sisi perutnya.
Sementara tenggorokannya berwarna hijau zamrud gelap, bulu bagian dada berwarna coklat tua.
Yang paling unik, di ekornya terdapat dua buah tali yang panjang berwarna hitam.
Burung betina berukuran lebih kecil dari burung jantan, dengan muka berwarna coklat dan tidak punya bulu-bulu hiasan.
Nama spesies ini menghormati penemunya seorang bangsawan dari Genoa, Italia bernama Francis Raggi

cerita rakyat papua


Cerita Rakyat Papua - Asal Usul Burung Cendrawasih

 

 

Di daerah Fak-fak tepatnya, pegunungan Bumberi hiduplah seorang perempuan tua bersama seekor anjing betina. Perempuan tua bersama anjing itu mendapatkan makanan dari hutan berupa buah-buahan dan kuskus. Hutan adalah ibu mereka yang menyediakan makanan untuk hidup. Mereka berdua hidup bebas dan bahagia di alam.

Suatu ketika, seperti biasanya mereka berdua ke hutan untuk mencari makan. Perjalanan yang cukup memakan waktu belum juga mendapatkan makanan. Anjing itu merasa lelah karena kehabisan tenaga. Pada keadaan yang demikian tibalah mereka berdua pada suatu tempat yang ditumbuhi pohon pandan yang penuh dengan buah. Perempuan tua itu serta merta memungut buah itu dan menyuguhkannya kepada anjing betina yang sedang kelaparan. Dengan senang hati, anjing betina itu melahap suguhan segar itu. Anjing betina itu merasa segar dan kenyang.

Namun, anjing itu mulai merasakan hal-hal aneh di perutnya. Perut anjing itu mulai membesar. Perempuan tua itu memastikan bahwa, ternyata sahabatnya (anjing betina) itu hamil. Tidak lama kemudian lahirlah seekor anak anjing. Melihat keanehan itu, si perempuan tua itu segera memungut buah pandan untuk dimakannya, lalu mengalami hal yang sama dengan yang dialami oleh sahabatnya. Perempuan tua itu melahirkan seorang anak laki-laki. Keduanya lalu memelihara mereka masing-masing dengan penuh kasih sayang. Anak laki-laki diberi nama: Kweiya.

Setelah Kweiya menjadi besar dan dewasa, dia mulai membuka hutan dan membuat kebun untuk menanam makanan dan sayuran. Alat yang dipakai untuk menebang pohon hanyalah sebuah pahat (bentuk kapak batu). Karenannya, Kweiya hanya dapat menebang satu pohon setiap harinya. Ibunya ikut membantu dengan membakar daun-daun dari pohon yang telah rebah untuk membersihkan tempat itu sehingga asap tebal mengepul ke langit. Setiap kali, hutan lebat itu dihiasi dengan kepulan asap tebal yang membumbung tinggi. Keduanya tidak menyadari bahwa mereka telah menarik perhatian orang dengan mengadakan kepulan asap itu.

Konon ada seorang pria tua yang sedang mengail di tengah laut terpaku melihat suatu tiang asap yang mengepul tinggi ke langit seolah-olah menghubungi hutan belantara dengan langit. Dia tertegun memikirkan bagaimana dan siapakah gerangan pembuat asap misterius itu. Karena perasaan ingin tahu mendorongnya untuk pergi mencari tempat di mana asap itu terjadi. Lalu ia pun segera menyiapkan diri dengan bekal secukupnya dan dengan bersenjatakan sebuah kapak besi, ia pun segera berangkat. Pria itu berangkat bersama seekor kuskus yang dipeliharanya sejak lama. Perjalanannya ternyata cukup memakan waktu. Setelah seminggu berjalan kaki, akhirnya ia mencapai tempat di mana asap itu terjadi.
Setibannya di tempat itu, ternyata yang ditemui adalah seorang pria tampan membanting tulang menebang pohon di bawah terik panas matahari dengan menggunakan sebuah kapak batu berbentuk pahat. Melihat itu, ia menghampiri lalu memberi salam: “weing weinggiha pohi” (artinya selamat siang) sambil memberikan kapak besi kepada Kweiya untuk menebang pohon-pohon di hutan rimba itu. Sejak itu pohon-pohonpun berjatuhan bertubi-tubi. Ibu Kweiya yang beristerahat di pondoknya menjadi heran. Ia menanyakan hal itu kepada Kweiya, dengan alat apa ia menebang pohon itu sehingga dapat rebah dengan begitu cepat.

Kweiya nampaknya ingin merahasiakan tamu baru yang datang itu. Kemudian ia menjawab bahwa kebetulan pada hari itu satu tangannya terlalu ringan untuk dapat menebang begitu banyak pohon dalam waktu yang sangat singkat. Ibunya yang belum sempat melihat pria itu percaya bahwa apa yang diceritakan oleh anaknya Kweiya memang benar. Dan karena Kweiya minta disiapkan makanan, ibunya segera menyiapkan makanan sebanyak mungkin. Setelah makanan siap dipanggilnya Kweiya untuk pulang makan. Kweiya bermaksud mengajak pria tadi untuk ikut makan ke rumah mereka dengan maksud memperkenalkannya kepada ibunya sehingga dapat diterima sebagai teman hidupnya.

Dalam perjalanan menuju rumah Kweiya memotong sejumlah tebu yang lengkap dengan daunnya untuk membungkus pria tua itu. Lalu setibanya di dekat rumah, Kweiya meletakkan, “bungkusan tebu” itu di luar rumah. Sewaktu ada dalam rumah Kweiya berbuat seolah-olah haus dan memohon kepada ibunya untuk mengambilkan sebatang tebu untuk di makannya sebagai penawar dahaga. Ibunya memenuhi permintaan anaknya lalu keluar hendak mengambil sebatang tebu. Tetapi ketika ibunya membuka bungkusaan tebu tadi, terkejutlah ia karena melihat seorang pria yang berada di dalam bungkusan itu. Serta-merta ibunya menjerit ketakutan, tetapi Kweiya berusaha menenangkannya sambil menjelaskan bahwa dialah yang mengakali ibunya dengan cara itu. Harapan agar ibunya mau menerima pria tersebut sebagai teman hidupnya, karena pria itu telah berbuat baik terhadap mereka. Ia telah memberikan sebuah kapak yang sangat berguna dalam hidup mereka nanti. Sang ibu serta merta menerima baik pikiran anaknya itu dan sejak itu mereka bertiga tinggal bersama-sama.

Setelah beberapa waktu lahirlah beberapa anak di tengah-tengah keluarga kecil tadi, dan kedua orang tua itu menganggap Kweiya sebagai anak sulung mereka. Sedang anak-anak yang lahir kemudian dianggap sebagai adik-adik kandung dari Kweiya. Namun dalam perkembangan selanjutnya dari hari ke hari hubungan persaudaraan antara mereka semakin memburuk karena adik-adik tiri dari Kweiya merasa iri terhadap Kweiya.

Pada suatu hari, sewaktu orang tua mereka sedang mencari ikan, kedua adiknya bersepakat mengeroyok Kweiya serta mengiris tubuhnya sehingga luka-luka. Karena merasa kesal atas tindakan kedua adiknya itu, Kweiya menyembunyikan diri di salah satu sudut rumah sambil meminta tali dari kulit pohon “Pogak nggein” (genemo) sebanyak mungkin. Sewaktu kedua orang tua mereka pulang ditanyakan di mana Kweiya tetapi kedua adik tirinya tidak berani menceritakan di mana Kweiya berada. Lalu adik bungsu mereka, yaitu seorang anak perempuan yang sempat menyaksikan peristiwa perkelahian itu menceritakannya kepada kedua orang tua mereka. Mendengar cerita itu si ibu tua merasa ibah terhadap anak kandungnya. Ia berusaha memanggil-manggil Kweiya agar datang. Tetapi yang datang bukannya Kweiya melainkan suara yang berbunyi: “Eek..ek, ek, ek, ek!” sambil menyahut, Kweiya menyisipkan benang pintalannya pada kakinya lalu meloncat-loncak di atas bubungan rumah dan seterusnya berpindah ke atas salah satu dahan pohon di dekat rumah mereka.

Ibunya yang melihat keadaan itu lalu menangis tersedu-sedu sambil bertanya-tanya apakah ada bagian untuknya. Kweiya yang telah berubah diri menjadi burung ajaib itu menyahut bahwa, bagian untuk ibunya ada dan disisipkan pada koba-koba (payung tikar) yang terletak di sudut rumah. Ibu tua itu lalu segera mencari koba-koba kemudian benang pintalan itu disisipkan pada ketiaknya lalu menyusul anaknya Kweiya ke atas dahan sebuah pohon yang tinggi di hutan rumah mereka. Keduanya bertengger di atas pohon sambil berkicau dengan suara: wong, wong, wong, wong, ko,ko, ko, wo-wik!!

Dan sejak saat itulah burung cenderawasih muncul di permukaan bumi di mana terdapat perbedaan antara burung cenderawsih jantan dan betina. Burung cenderawasih yang buluhnya panjang di sebut siangga sedangkan burung cenderawasih betina disebut: hanggam tombor yang berarti perempuan atau betina. Keduanya dalam bahasa Iha di daerah Onin, Fak-fak.

Adik-adik Kweiya yang menyaksikan peristiwa ajaib itu meresa menyesal lalu saling menuduh siapa yang salah sehingga ditinggalkan ibu dan kakak mereka. Akhirnya mereka saling melempari satu sama lain dengan abu tungku perapian sehingga wajah mereka ada yang menjadi kelabu hitam, ada yang abu-abu dan ada juga yang merah-merah, lalu mereka pun berubah menjadi burung-burung. Mereka terbang meninggalkan rumah mereka menuju ke hutan rimba dengan warnanya masing-masing. Sejak itu hutan dipenuhi oleh aneka burung yang umumnya kurang menarik di bandingkan cenderawasih.

Ayah mereka memanggil Kweiya dan istrinya dan menyuruh mengganti warna buluh, namun mereka tidak mau. Ayah mereka khawatir buluh yang indah itu justru mendatangkan mala petaka bagi mereka. Dia berpikir suatu ketika orang akan memburuh mereka termasuk ketiga anaknya yang lain. Ayah merasa kecewa kerena mereka tidak mengindahkan permintaan mereka untuk berubah buluh. Kini Ayahnya kesepian dan sedih, ia melipat kedua kaki lalu, menjemburkan dirinya ke dalam laut dan menjadi penguasa laut “Katdundur"